ॐ नमः शिवाय

Selasa, 03 November 2015

Brahma

Brahma



Brahma yang dikenal sebagai salah seorang dewa Trimūrti ini bila dibandingkan dengan dewa-dewa Trimūrti lainnya, yaitu Çiwa dan Wişņu, tidaklah sebesar dan sepenting keduanya. Tidak ada kuil atau bangunan suci untuk memujanya, juga tidak ada aliran yang khusus memuja Brahma seperti yang terjadi pada aliran-aliran Çiwait maupun Wişņuit.

Walaupun tidak ada bangunan suci yang diperuntukkan kepadanya, dalam relung-relung kuil-kuil untuk Çiwa dan Wişņu, umumnya di relung utara diletakkan arca Dewa Brahma yang kadang-kadang juga dipuja.

Brahma adalah dewa yang menduduki tempat pertama dalam susunan dewa-dewa Trimūrti, sebagai dewa pencipta alam semesta.

Mitologi tentang Brahma muncul pertama kali dan berkembang pada zaman Brahmāna. Brahma dianggap sebagai perwujudan dari Brahman, jiwa tertinggi yang abadi dan muncul dengan sendirinya.

Menurut kitab Satapatha Brahmāna, dikatakan bahwa Brahmalah yang menciptakan, menempatkan, dan memberi tugas para dewa. Sebaliknya, di dalam kitab Mahabharata dan Purana dikatakan bahwa Brahma merupakan leluhur dunia yang muncul dari pusar Wisnu. Sebagai pencipta dunia, Brahma dikenal dengan nama Hiranyagarbha atau Prajapati.


Pencipta dunia
Dalam ajaran-ajaran Weda dikatakan bahwa pada mulanya di saat dunia masih diselubungi oleh kegelapan, ketiak belum tercipta apa pun, Ia, makhluk yang ada dengan sendirinya yang tanpa awal dan akhir, berkeinginan mencipta alam semesta dari tubuhnya sendiri.

Mula-mula ia menciptakan air, kemudian menyebarkan bermacam-macam benih-benihan. Dari benih-benih ini kemudian muncul telur emas yang bersinar seperti cahaya matahari. Dari telur emas inilah Brahma lahir yang merupakan perwujudan dari Sang Pencipta itu sendiri. Menurut kitab Wişņu Purāna, telur emas itu merupakan tempat tinggal Sang pencipta selama ribuan tahun yang akhirnya pecah, dan muncullah Brahma dari dalamnya untuk mencipta dunia dengan segala isinya.

Brahma, seperti juga Çiwa dan Wişņu, memiliki bermacam-macam nama sebutan, di antaranya adalah Atmabhu (yang ada dengan sendirinya), Annawūrti (pengendara angkasa), Ananta (yang tiada akhir), Bodha (guru), Bŗhaspat (raja yang agung), Dhātā (pencipta), Druhina (sang pencipta), Hiranyagarbha (lahir dari telur emas), Lokesha (raja seluruh dunia), Prajāpati (raja dari segala makhluk), dan Swayambhū (yang ada dengan sendirinya). Di dalam mitologi Hindu dikatakan bahwa wahana (kendaraan) Brahma adalah hamsa (angsa).

Binantang-binantang yang dijadikan sebagai kendaraan para dewa pada kenyataannya merupakan manifestasi dari sifat-sifat para dewa itu sendiri. Hamsa adalah simbol dari “kebebasan” untuk hidup kekal. Sifat seperti ini dimiliki oleh Brahma. Hamsa merupakan binatang yang dapat hidup di dua alam, dapat berenang di air, dan terbang ke angkasa. Di air ia dapat berenang semaunya dan di angkasa ia dapat terbang ke mana saja ia suka. Ia mempunyai kebebasan, baik di bumi (= air) maupun di angkasa.

Dewa berkepala empat
Brahma dikenal juga sebagai dewa berkepala empat dengan masing-masing muka menghadap keempat arah mata angin. Keempat muka Brahma merupakan simbol dari empat kitab Weda, empat Yuga, dan empat warna. Karena memiliki empat kepala, brahma juga dikenal sebagai catur anana atau catur mukha atau asta karna (delapan telinga).
Kitab Matsya Purana menyebutkan bahwa kepala Brahma berjumlah lima, tapi tinggal empat karena dipotong Çiwa. Dalam kitab ini diceritakan bahwa Brahma mencipta seorang wanita dari tubuhnya sendiri yang diberinya lima buah nama; Satarupā, Sawitri, Saraswatī, Gāyatri, dan Brāhmani. Karena cantiknya, Brahma merasa tertarik, sehingga sang dewi terus dipandang. Satarupā yang merasa terus diperhatikan menghindar ke sebelah kanan.

Dewa Brahma sebagai dewa besar malu untuk menoleh ke kanan dan karena itu muncul kepala Brahma ke dua di sebelah kanan. Begitu pula ketika Satarupā menghindar ke kiri, ke belakang, dan akhirnya muncul kepala Brahma yang kelima ketika Satarupā menghindar dengan terbang ke angkasa.
Menurut kitab Padma Purāna, ketika terjadi perselisihan antara Brahma dan Wişņu, Çiwa datang melerai keduanya dengan mengabulkan permintaan keduanya. Brahma sangat gembira, sehingga lupa memberi penghormatan kepada Çiwa. Çiwa merasa kurang senang lalu menghampiri Brahma dan kemudian memotong salah satu kepalanya dengan kuku jari kirinya dan berkata’ “Kepala ini terlalu terang, akan memberikan kesulitan kapada dunia karena sinarnya yang terang melebihi seribu cahaya matahari.”

Trimurti

Trimurti





Menurut arti katanya, Trimūrti adalah “Tiga Badan”, dan maksudnya adalah Dewa yang tertinggi (Içwara) yang menjadikan dan menguasai alam semesta.
Dewa ini berbadan tiga, sesuai dengan kekuasaan Içwara yang tiga macam; mencipta, memlihara atau melangsungkan, dan membinasakan.
Ketiga macam kekuasaan yang masing-masing diwakili oleh satu badan dewa ini kemudian diwakili oleh seorang dewa.
Demikianlah dewa pencipta adalah Brahma, dewa pemelihara adalah Wişņu, dan dewa pembinasa adalah Çiwa, dewa waktu.

Di antara ketiga dewa tertinggi itu hanya Wi şņu dan Çiwa yang mendapat pemujaan luar biasa.
Hal ini adalah wajar mengingat bahwa yang dihadapi manusia adalah apa yang sudah tercipta. Oleh karena itu, dewa pencipta dengan sendirinya terdesak oleh kepentingan manusia, yang lebih memperhatikan berlangsungnya apa yang sudah tercipta itu. Pun kenyataan bahwa segala apa akan binasa karena waktu, selalu memenuhi perhatian manusia.

Di antara para pemeluk agama Hindu, separuhnya lebih-lebih memuja Wisnu, separuhnya lagi memuja Çiwa.
Para pemuja Wişņu (golongan Waşņawa) dan para pemuja Çiwa (golongan Çaiwa) tidak mengingkari kedudukan Trimurti, tidak pula beranggapan bahwa Wişņu dan Çiwa adalah dewa yang satu-satunya.
Hanyalah ada pendapat bahwa bagi golongan Waişņawa, Çiwa itu adalah Wişņu dalam bentuknya sebagai dewa pembinasa, sedangkan sebaliknya bagi golongan Çaiwa, Wişņu adalah Çiwa sebagai pemelihara alam semesta.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa dalam Trim ūrti itu Çiwa yang dianggap sebagai dewa tertinggi atau Mahadewa atau Maheçwara.
Memang sebagai dewa waktu atau Mahakala, ia sangat berkuasa oleh karena waktulah yang sesungguhnya mengadakan, melangsungkan, dan membinasakan. Segala apa terikat kepada waktu, ada tidaknya sesuatu tergantung kepada waktu.
Sifat-sifat keagungan dan kedahsyatan dalam ruang dan waktu yang tak terbatas itulah yang menundukkan manusia untuk menginsyafi kekecilannya di dalam alam semesta. Maka pemujaan kepada Çiwa itu selalu disertai permohonan akan kemurahannya dan rasa takut tidak dapat dihindarkan.

Sesuai dengan beraneka macamnya sifat yang berpadu dalam Içwara sebagai Yang Maha Kuasa maka kecuali sebagai Mahadewa, Maheçwara, dan Mahakala, Çiwa juga dipuja sebagai Mahaguru dan Mahayogi; yang menjadi teladan serta pemimpin para pertapa. Serta, sebagai Bhairawa yang siap untuk merusak membinasakan segala apa yang ada.

Berlainan sekali sifatnya adalah Wi şņu. Dalam segala bentuk dan perwujudannya, ia tetaplah dewa yang memlihara dan melangsungkan alam semesta. Maka, sebagai penyelenggara dan pelindung dunia, ia digambarkan setiap saat siap untuk memberantas semua bahaya yang mengancam keselamatan dunia. Untuk keperluan ini, Wişņu turun ke dunia dalam bentuk penjelmaan yang sesuai dengan bahayanya sebagai awatara.

Kecuali Trim ūrti, masih banyak dewa-dewa lainnya. Sebagian besar daripadanya adalah dewa-dewa yang sudah dikenal dari zaman Weda sebelumnya, beberapa diantaranya sudah berubah sifatnya. Sebagai contoh, Waruna yang tak lagi sebagai dewa angkasa seperti di zaman Weda, melainkan telah berubah menjadi dewa laut. Sebagian lagi adalah dewa-dewa yang mula-mula dipuja setempat-setempat.

Kasta

Kasta


Sistem kasta, sebagaimana yang dipahami dalam masyarakat luas: adalah sebuah mengelompokan manusia dalam satuan kelompok kecil berdasarkan "profesi" yang diwariskan secara turun temurunan.
Adalah sangat beruntung mereka yang terlahir dalam lingkungan kasta atas, karena mereka masih mendapat peluang/keluasaan untuk "lintas sektoral" misalnya seorang Brahman masih mungkin untuk berkiprah dalam sektor Ksatria. Sedangkan yang paling menderita adalah yang terlahir dari rahim keluarga Paria, yang dikatagorikan sebagai manusia buangan (karena tidak termasuk dalam lingkup kasta).

Lalu apakah demikian ajaran Hindu?

(semoga pendapat saya ini tidak dianggap sebagai suatu excuse)

Dalam ajaran Hindu, yang berinduk pada kumpulan kitab sastra Rigveda, memang terdapat sebuah aturan yang mengatur pembagian tugas dalam menjalankan kehidupan dengan istilah Varna (warna).
Pembagian tugas ini merupakan simbolisasi bagian tubuh Prajapati (dewa Brahma, sebagai pencipta), yaitu:

  1. Mulut = Brahman, sebagai bagian tubuh yang bertugas untuk mengumpulkan pengetahuan dan memberikan nasehat ~ tugas pemimpin agama.
  2. Tangan = Ksatria, dengan tugas untuk melindungi ~ termasuk memimpin negara dan tentara.
  3. Tubuh = Waisya, dengan tugas untuk memberikan limpahan makanan ~ termasuk petani, pedagang.
  4. Kaki = Sudra, yang bertugas melayani ketiga kasta terdahulu.

Sampai disini saya yakin kita dapat memahami tujuan pembagian tugas yang sangat profesional untuk masa tersebut; sebab kalau para profesional tersebut menjalankan tugas diluar batasan profesinya maka keteraturan tidak akan pernah terbentuk.
Dapatkan seorang Brahman mendalami agama kalau pada saat yang bersamaan harus pergi berperang atau memecah perhatiannya untuk urusan perut?
Atau seorang ksatria yang harus berperang namun pada saat yang bersamaan harus memimpin upacara keagamaan?
Atau seorang petani yang seharian bekerja diladang namun harus menjalani puasa sebagai bagian dari lelaku keagamaan?

Rigveda tidak membahas bahwa pembagian tugas ini bersifat regenerative, tidak berarti tanggung jawab ini juga menjadi tanggung jawab & hak sanak keluarganya.
Dalam perkembangan ajaran Hindu selanjutnya Rsi Svayambhuva seorang resi-manu mempelopori untuk memberikan "nilai aturan" dalam ajaran Hindu yang kemudian dikenal sebagai Mānava-dharmśāstra atau Manusmṛti (aturan Manu) diperkirakan dibuat pada periode tahun 200 SM hingga 200 M.
Pada awalnya resi Svayambhuva membuat 10.000 sloka yang memuat berbagai hukum yang berlaku dalam ajaran Hindu. Kemudian resi-resi Manu pengganti Svayambhuva secara beruntun mengurangi jumlah aturan-aturan tersebut hingga akhirnya hanya berjumlah 2685 sloka saja.

Dalam buku "aturan Manu" inilah bahasan Varna dijabarkan dan berlaku pula secara regenerative dimana dituliskan ... Untuk pertumbuhan dunia, Brahman menciptakan Brahmana (golongan pandita), Kshatriya (golongan prajurit), Waisya (golongan pedagang), dan Sudra (golongan pekerja).
dan juga bagaimana pengelompokan ini berlaku pada proses Hukum Karma dan Reinkarnasi...

Saya berpendapat:
Pada masa tersebut, setiap keluarga dari turunan tertentu akan mewarisi kemampuan dan ketrampilan generasi sebelumnya baik secara genetikal maupun tradisi ~ sehingga "pertumbuhan" aturan akan berlangsung secara lebih pasti.

Pada saat masa para Rsi Manu berakhir, sebenarnya banyak dari para pemimpin ajaran Hindu yang mencoba menyampaikan protes pada konsepsi Varna ini, kita ambil contoh:
Dalam kitab Mahabarata, tentang Karna yang dalam perjuangan hidupnya sebagai anak seorang kusir (sudra) mendapatkan kesempatan menjadi adipati (ksatria) dan banyak contoh lain...

Protes dan penentangan pada konsepsi ini juga dilakukan oleh Sidharta Gautama (Ksatria) yang membuang diri dalam lingkungan kaum paria hingga akhirnya mendapatkan kesempurnaan menjadi Budha.

Tokoh-tokoh Hindu era modern juga melakukan penentangan konsepsi ini, misalnya pandhit Mahatma Gandhi dengan kelompok Harijan (dari golongan paria) yang menentang penggunaan konsepsi Kasta dalam kehidupan keseharian di India yang membuahkan pelarangan menerapkan konsepsi Kasta di luar jalur keagamaan.

****************
Kasta [dalam bhs portugis, casta=keranjang] menjadi semakin kuat dan melembaga sebenarnya bukan karena ajaran Hindu (baik dari rigveda maupun manusriti) tetapi dari budaya feodalism lingkungan kerajaan yang melegalisir kekuasaan dengan mengatas namakan agama.... nah kalau sampai titik ini, saya rasa Kasta berlaku di semua bentukan kebudayaan manusia...

Kosmologi Penciptaan Alam Semesta Menurut Hindu


Kosmologi Hindu merupakan pengetahuan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam semesta menurut filsafat Hindu. Dalam ajaran kosmologi Hindu, alam semesta dibangun dari lima unsur, yakni: tanah (zat padat), air (zat cair), udara (zat gas), api (plasma), dan ether. Kelima unsur tersebut disebut Pancamahabhuta atau lima unsur materi.

Daftar isi

Purusa dan Prakerti

Dalam ajaran Hindu, Purusa dan Prakerti merupakan dua unsur pokok yang terkandung dalam setiap materi di alam semesta. Purusa dan Prakerti merupakan unsur yang bersifat kekal, halus, dan tidak dapat dipisahkan. Purusa adalah unsur yang bersifat kejiwaan sedangkan Prakerti adalah unsur yang bersifat kebendaan atau material. Pada penciptaan alam semesta, Prakerti berevolusi menjadi Pancatanmatra yaitu lima benih yang belum berukuran. Pancatanmatra setelah melalui evolusi yang panjang akhirnya menjadi Pancamahabhuta, yakni lima unsur materi. Lima unsur materi ini kemudian membentuk anggota alam semesta, seperti misalnya matahari, bumi, bulan, bintang-bintang, planet-planet, dan lain-lain.

Penciptaan Alam Semesta

Dalam Kitab Weda

Dalam kitab Regweda terdapat nyanyian yang mengisahkan asal mula alam semesta. Nyanyian tersebut disebut Nasadiyasukta dan terdiri dari tujuh bait sebagai berikut:
Pada mulanya tidak ada sesuatu yang ada namun tidak ada sesuatu yang tidak ada. Tidak ada udara, tidak ada langit pula. Apakah yang menutupi itu, dan mana itu? Airkah di sana? Air yang tak terduga dalamnya?
Waktu itu tidak ada kematian, tidak pula ada kehidupan. Tidak ada yang menandakan siang dan malam. Yang Esa bernapas tanpa napas menurut kekuatannya sendiri. Di luar daripada Ia tidak ada apapun.
Pada mulanya kegelapan ditutupi oleh kegelapan itu sendiri. Semua yang ada ini adalah sesuatu yang tak terbatas dan tak dapat dibedakan, yang ada pada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosong.
Setelah itu timbullah keinginan, keinginan yang merupakan benih awal dan benih semangat. Para Rsi setelah bermeditasi dalam hatinya menemukan dengan kearifannya hubungan antara yang ada dan yang bukan ada.
Sinarnya terentang keluar. Apakah ia melintang? Apakah ia di bawah atau di atas? Beberapa menjadi pencurah benih, yang lain amat hebat. Makanan adalah benih rendah, pemakan adalah benih unggul.
Siapakah yang sungguh-sungguh mengetahui? Siapakah di dunia ini yang dapat menerangkannya? Dari manakah kejadian itu, dan dari manakah timbulnya? Para Dewa ada setelah kejadian itu. Lalu, siapakah yang tahu, darimana ia muncul?
Dia, yang merupakan awal pertama dari kejadian itu, dari-Nya kejadian itu muncul atau mungkin tidak. Dia yang mengawasi dunia dari surga tertinggi, sangat mengetahuinya atau mungkin juga tidak.

Menurut filsafat Hindu dalam Regweda, elemen dasar dunia adalah Asat atau ketiadaan yang sama dengan Aditi yaitu ketidakterbatasan. Semua yang ada adalah Diti yaitu yang terikat. Ajaran dalam Regweda juga menyatakan bahwa alam semesta diciptakan oleh Brahman dari unsur yang sudah ada. Hiranyagharba atau "Janin Emas" muncul dari lautan yang memenuhi angkasa lalu dari dalamnya muncul Brahma yang membangun dunia yang masih kacau tanpa bentuk agar teratur rapi.

Dalam Kitab Purana dan Upanisad

Menurut kepercayaan Hindu, alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap, demikian pula Brahman menciptakan alam semesta tahap demi tahap. Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa. Dengan tapa itu, Brahman memancarkan panas. Setelah menciptakan, Brahman menyatu ke dalam ciptaannya.
Menurut kitab Purana, pada awal proses penciptaan, terbentuklah Brahmanda. Pada awal proses penciptaan juga terbentuk Purusa dan Prakerti. Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta. Tahap ini terjadi berangsur-angsur, tidak sekaligus. Mula-mula yang muncul adalah Citta (alam pikiran), yang sudah mulai dipengaruhi oleh Triguna, yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Tahap selanjutnya adalah terbentuknya Triantahkarana, yang terdiri dari Buddhi (naluri); Manah (akal pikiran); Ahamkara (rasa keakuan). Selanjutnya, munculah Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula Dasendria (sepuluh indria).
Dasendria
Pancabuddhindria Pancakarmendria
  1. Srotendria (rangsang pendengar; indria pada telinga)
  2. Twakindria (rangsang peraba; indria pada kulit)
  3. Caksuindria (rangsang penglihatan; indria pada mata)
  4. Ghranendria (rangsang pencium; indria pada hidung)
  5. Jihwendria (rangsang pengecap; indria pada lidah)
  1. Garbendria (penggerak perut; indria pada perut)
  2. Panindria (penggerak tangan; indria pada tangan)
  3. Padendria (penggerak kaki; indria pada kaki)
  4. Payuindria (penggerak organ pelepasan; indria pada organ pelepasan)
  5. Upasthendria (penggerak alat kelamin; indria pada alat kelamin)
Setelah timbulnya Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, maka sepuluh indria tersebut berevolusi menjadi Pancatanmatra, yaitu lima benih unsur alam semesta yang sangat halus, tidak berukuran. Lima benih tersebut dijelaskan sebagai berikut:
  1. Sabdatanmatra (benih suara)
  2. Rupatanmatra (benih penglihatan)
  3. Rasatanmatra (benih perasa)
  4. Gandhatanmatra (benih penciuman)
  5. Sparsatanmatra (benih peraba)
Pancatanmatra merupakan benih saja. Pancatanmatra berevolusi menjadi unsur-unsur benda materi yang nyata. Unsur-unsur tersebut dinamai Pancamahabhuta, atau Lima Unsur Zat Alam. Kelima unsur tersebut yaitu:
  1. Pertiwi (zat padat, tanah, logam)
  2. Apah (zat cair)
  3. Teja (plasma, api, kalor)
  4. Bayu (zat gas, udara)
  5. Akasa (ether)
Pancamahabhuta berbentuk Paramānu, atau benih yang lebih halus daripada atom. Pada saat penciptaan, Pancamahabhuta bergerak dan mulai menyusun alam semesta dan mengisi kehampaan. Setiap planet dan benda langit tersusun dari kelima unsur tersebut, namun kadangkala ada salah satu unsur yang mendominasi. Unsur Teja mendominasi matahari, sedangkan bumi didominasi Pertiwi dan Apah.

Struktur Alam Semesta

Lapisan Atas Lapisan Bawah
  1. Bhurloka
  2. Bhuwahloka
  3. Swahloka atau Swargaloka
  4. Mahaloka
  5. Janaloka
  6. Tapaloka
  7. Satyaloka atau Brahmaloka
  1. Atala
  2. Witala
  3. Sutala
  4. Talatala
  5. Mahatala
  6. Rasatala
  7. Patala

Lapisan Atas Alam Semesta

Menurut agama Hindu, bagian atas alam semesta terdiri dari tujuh lapisan. Tujuh lapisan tersebut dikenal dengan istilah Saptaloka (tujuh alam). Bhurloka adalah lapisan yang paling bawah tempat bumi berada; Bhuwahloka adalah lapisan alam di atasnya yang didiami oleh para raksasa; Swahloka atau Swargaloka atau surga adalah kediaman para dewa yang dipimpin oleh dewa Indra; Mahaloka adalah kediaman Resi Bhrigu; Janaloka adalah kediaman Sapta Resi; Tapaloka merupakan kediaman ras makhluk yang disebut Weragi; Satyaloka atau Brahmaloka merupakan kediaman penguasa satu alam semesta yakni dewa Brahma.[1]

Tujuh Hari dan Benda Semesta

Saptawara atau tujuh hari yang masing-masing memiliki benda semesta:
No. Indonesia Inggris Surya-siddhanta Bali Benda Semesta
1. Senin Monday Soma Soma Bulan
2. Selasa Tuesday Angaraka ANggara Mars
3. Rabu Wednesday Buddha Buda Merkurius
4. Kamis Thursday Brhaspati Wraspati Jupiter
5. Jumat Friday Sukra Sukra Venus
6. Sabtu Saturday Saniscara Saniscara Saturnus
7. Minggu Sunday Aditya Radite Matahari
Ketujuh benda angkasa tersebut berada di Bhurloka.[2] Saptaloka bukan merupakan tujuh lapisan langit, sebab loka berarti alam dan di dalam satu loka terdapat banyak planet. Lapisan langit disebut Akasha (IAST: Ākāśa) yang berarti angkasa.

Lapisan Bawah Alam Semesta

Menurut agama Hindu, di bawah Bhurloka terdapat tujuh lapisan alam bawah yang dihuni oleh makhluk dengan unsur kasar. Saptapatala terdiri dari: Atala, Witala, Sutala, Talatala, Mahatala, Rasatala, Patala. Atala identik dengan Mahamaya; Witala dipimpin oleh manifestasi Siwa yang disebut Hatakeswara; Sutala dipimpin oleh raksasa Bali; Talatala dipimpin oleh Maya; Mahatala kediaman ular raksasa; Rasatala dihuni para Detya dan Danawa; Patala dipimpin oleh Basuki, raja para naga. Planet-planet naraka atau neraka berada di Patala. Dengan demikian satu alam semesta menurut Weda terdiri dari 14 lapisan alam.[1]

Usia Alam Semesta

Dalam kitab-kitab suci Hindu disebutkan bahwa alam semesta diciptakan, dimusnahkan, dan dibuat ulang menurut suatu siklus yang berputar abadi. Siklus tersebut disebut Kalpa atau masa seribu Yuga. Satu Kalpa sama dengan 4.320.000.000 tahun bagi manusia sedangkan bagi Brahma satu Kalpa sama dengan satu hari. Dalam kosmologi Hindu, alam semesta berlangsung selama satu Kalpa dan setelah itu dihancurkan oleh unsur api atau air. Pada saat itu, Brahma istirahat selama satu malam, yang lamanya sepanjang satu hari baginya. Proses itu disebut Pralaya (Katalismik) dan berulang-ulang selama seratus tahun bagi Brahma (311 Triliun tahun bagi manusia) yang merupakan umur Brahma.
Menurut pandangan umat Hindu, alam semesta sedang berada pada tahun ke-51 bagi Brahma atau 155 Triliun tahun telah berlangsung semenjak Brahma lahir. Setelah Brahma melewati usianya yang ke-100, siklus yang baru dimulai lagi dan segala ciptaan yang sudah dimusnahkan diciptakan kembali. Proses ini merupakan siklus abadi yang terus berulang-ulang dan tak akan pernah berhenti.
Masa hidup Brahma dibagi setiap satu siklus Mahayuga. Yuga terdiri dari empat bagian, yang mana dalam setiap bagian merupakan zaman yang memiliki karakter berbeda-beda. Mahayuga memiliki 71 Divisi, dan setiap divisi merupakan 14 Manvantara (1000) tahun. Setiap Mahayuga berlangsung 4.320.000 tahun. Manwantara adalah siklus Manu, leluhur manusia menurut kepercayaan Hindu.

Sumber :
  1. ^ a b Wikana, Ngurah Heka: "Loka", 2010:2
  2. ^ http://narayanasmrti.com/2010/07/misteri-di-balik-nama-nama-hari/

Dasa Awatara



Sepuluh Awatara / utusan Tuhan sebagai pemelihara alam yaitu:

1. Matsya Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai Ikan yang besar yang menyelamatkan manusia pertama dari tenggelam saat dunia dilanda banjir yang maha besar.

2. Kurma Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai kura-kura besar yang menumpu dunia agar selamat dari bahaya terbenam saat pemutaran Gunung Mandara di Lautan Susu (Kesire Arnawa) oleh para Dewa untuk mencari Tirta Amertha (Air suci kehidupan)

3. Waraha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Badak Agung yang mengait dunia kembali agar selamat dari bahaya tenggelam

4. Nara Simbha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai manusia berkepala singa (Simbha/Sima) yang membasmi kekejaman Raja Hyrania Kasipu yang sangat lalim dan menindas Adharma

5. Wamana Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai orang kerdil berpengetahuan tinggi dan mulia dalam mengalahkan Maha Raja Bali yang sombong dan ingin menguasai dunia serta menginjak-injak Dharma.

6. Paracu Rama Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai Rama Parasu yaitu Rama bersenjatakan Kapak yang membasmi para ksatrya yang menyeleweng dari ajaran Dharma.

7. Rama Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Sang Rama putra raja Dasa Rata dari Ayodya untuk menghanncurkan kejahatan dan kelaliman yang ditimbulkan oleh Raksasa Rahwana dari negara Alengka.

8. Krisna Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Sri Krisna raja Dwarawati untuk membasmi raja Kangsa, Jarasanda dan membantu Pandawa untuk menegakkan keadilan dengan membasmi Kurawa yang menginjak-injak Dharma.

9. Budha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai putra raja Sododana di Kapilawastu India dengan nama Sidharta Gautama yang berarti telah mencapai kesadaran yang sempurna. Budha Gautama menyebarkan ajaran Budha dengan tujuan untuk menuntun umat manusia mencapai kesadaran, penerangan yang sempurna atau Nirwana.

10. Kalki Awatara yaitu penjelmaan Hyang Widhi yang terakhir yang akan turun untuk membasmi penghinaan-penghinaan, pertentangan-pertentangan agama akibat penyelewengan umat manusia dari ajaran Hyang Widhi (Dharma). Menurut keyakinan umat Hindu, awatara terakhir akan turun apabila memuncaknya pertentangan-pertentangan agama di dunia ini.

Sumber :
http://balirage.blogspot.co.id/2009/01/dasa-awatara.html

Why I Am Still A Hindu (Mengapa Saya Masih Hindu) ?




Belakangan ini kita cukup senang mendengar banyak saudara kita yang kembali ke ajaran dharma, ajaran yang bersumber dari Veda. Mereka telah di Sudhi Wadani menjadi seorang Hindu. Namun, saking senangnya kita melihat hal tersebut, kita malah tidak menghiraukan adanya bahaya yang terus memepet posisi kita.

Di tempat lain, malah banyak saudara kita yang pindah agama karena berbagai alasan. Mereka yang lemah, yang haus akan spiritual, yang tidak puas dengan jawaban “nak mula keto”, yang ingin mencari kedamain dengan jalan rohani, yang terpuruk karena ekonomi dan disibukkan dengan ritual yang menelan banyak biaya, mulai didekati oleh para kaum misionaris-misionaris untuk menawarkan produk yang tidak jelas kualitasnya.

Betapa sedihnya hati melihat saudara kita meninggalkan ajaran sanatana dharma karena kasus konversi. Maraknya kasus konversi agama belakangan ini sungguh membuat kita bingung. Kenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa agama diperjual-belikan? Apa yang melandasi saudara-saudara kita pindah agama? Apa benar agama Hindu itu sulit? Apa benar agama lain lebih baik dari Hindu? Apa ada yang salah dari agama Hindu? Banyak pertanyaan di otak kita yang terus bermunculan akibat kasus seperti ini.

Hal ini sesungguhnya menjadi PR bagi kita umat dan para tokoh Hindu. Mencari solusi atas permasalahan ini, agar umat Hindu tidak semakin berkurang karena konversi agama. Belum lagi karena kasus pernikahan beda agama, yang menjerat gadis ataupun pria Hindu untuk pindah agama mengikuti pasangannya.

Siapa yang salah? Mari kita berbenah dari sekarang. Mulailah menumbuh kembangkan sikap bangga terhadap Hindu, bangga terhadap ajaran dharma. Bacalah buku-buku yang berkaitan dengan Hindu, karena dengan banyak membaca kita dari tidak tau menjadi tau, dari membaca kita bisa menjawab banyak pertanyaan yang orang lain dituduhkan ke agama kita. Dari banyak membaca kita bisa menjawab banyak pertanyaan yang ada dalam otak kita. Selain itu, banyak-banyak bertanyalah pada orang yang tau tentang bagaimana Hindu itu, seperti sulinggih, pemangku, serta tokoh agama.

Tanamkan sikap militan Hindu pada diri anda. Jika anda tau ada saudara kita yang terkena konversi, segeralah sadarkan. Selain itu, mari kita mulai tanamkan pendidikan Hindu sejak dini pada anak cucu kita. Dimulai dari pendidikan Hindu di keluarga, sekolah, masyarakat (melalui pasraman). Dengan mengajarkan pendidikan Hindu sejak dini, diharapkan kita bisa memiliki benteng iman yang kuat untuk menolak konversi agama.

Berikut saya lampirkan sebuah sharing dari saudara kita yang lama tinggal di Arab tentang bahwa Dia tetap Hindu walau hidupnya sebagian besar bergaul dengan agama Islam. Dari sharing saudara kita ini, saya berharap saudara-saudaraku sedharma bisa mencontoh sikapnya yang smakin mantap di jalan dharma menjadi sorang Hindu.

Namanya “Made K. Kurniawan“, cerita ini nyata, bukan sebuah rekayasa yang saya buat sendiri. Selamat menyimak.
Suksma.
Om Santih Santih Santih Om.

Why I Am Still A Hindu (Mengapa Saya Masih Hindu) ?
Aum Svastiastu,
Saya ada cerita sedikit tentang pengalaman saya waktu baru beberapa hari tiba di Kuwait.

Pada sebuah kesempatan, salah seorang teman baik muslim dari Indonesia bertanya, “Made, kamu sudah tahu banyak tentang Islam dan paham ajaran Islam tapi kenapa kamu masih Hindu?

Pertanyaan sensitif yang perlu jawaban extra hati2 karena saya satu2nya orang yang berasal dari Bali dan beragama Hindu di negara arab (kandang Islam). Salah2 saya bisa pulang tinggal nama.

Dia bertanya demikian setelah saya menceritakan latar belakang saya yaitu orang bali yang lahir dan besar di lingkungan muslim di Lampung dan ikut pelajaran agama islam dari SD sampai perguruan tinggi. Saya juga menceritakan pengalaman saya ketika kecil saya ikut teman2 sepermainan belajar mengaji (membaca quran) di sebuah surau ( Langgar ) dekat rumah saya tinggal. Tak pelak lingkungan yang demikian membuat saya fasih dan hafal surah2 utama dalam shalat khususnya surah Al-Fatiha.

Kebetulan yang bertanya ini adalah teman baik saya. Saya sering menginap dan makan di flat nya. Demi menjaga persahabatan dan tidak menyinggung perasaan dia, meskipun saya kritis terhadap Islam dan militan Hindu, saya hanya menjawab secara diplomatis, ‘mungkin saya belum mendapat hidayah dari Allah. Doakan saja supaya saya cepat mendapat hidayah dan segera masuk Islam. Insyalla, Allah Karim.’

Sambil tersenyum teman saya menimpali, ‘Bagus, Insyalla, Allah Karim.’

Setelah percakapan tsb, teman2 muslim yg lain memberi saya banyak buku2 referensi Islam dan bahkan ada yang menyarankan saya untuk meminta buku2 tentang Islam secara gratis di kantor Islam Presentation Committee ( IPC ) cabang Kuwait, sebuah organisasi syiar Islam yang memberikan informasi dan dakwah Islam secara gratis kepada para calon mualaf di Middle East.

Ya, saya memang sempat ke kantor IPC dan mendapat buku2 Islam gratis dan membacanya. Saya juga berdialog dan bertanya kepada teman2 muslim, ustad, mullah dari India, Pakistan, Bangladesh, Iran, Syria, Palestine, Jordania dll. Secara garis besar pandangan mereka dan umat muslim seluruh dunia tentang islam adalah sama yaitu Islam adalah satu2nya agama yg paling benar dan satu2nya paspor menuju surga karena memang demikianlah yg diajarkan oleh nabinya dan tercantum dalam kitab suci mereka.

Namun anehnya semakin byk saya membaca referensi Islam dan semakin byk yg saya ketahui tentang Islam khususnya riwayat Nabi Islam, justru saya malah semakin mantab memeluk Hindu. Tentu ini berbeda dengan kasus2 mualaf yang mengaku masuk Islam dan menjadi muslim setelah membaca dan mempelajari Islam.

Sekedar selingan, ada cerita menarik tentang teman saya dari Filipina yang sama2 bekerja di Kuwait. Dia pindah agama dari Kristen ke Islam. Kepada saya dia mengaku mempelajari islam selama kurang lebih 7 thn sebelum akhirnya memutuskan utk pindah menjadi muslimah. Saya tanya, “kamu tahu berapa jumlah isteri Nabi Muhammad?.” Dia jawab, tiga. Saya cuma tersenyum. Besoknya saya bawakan dia buku biografi Muhammad. Dia  hampir tidak percaya bahwa Muhammad beristrikan 12 orang (ini yg resmi) tdk termasuk gundik (concubine tawanan perang). Saya bilang ke dia, nurani dan akal sehat saya sulit menerima dan mengakui org semacam itu sbg org suci apalagi sebagai nabi (utusan tuhan). Dia cuma bisa senyum sambil menelan ludah pahit…

Kembali ke cerita saya semula. Di bawah ini adalah bbrp alasan saya pribadi mengapa sampai sekarang saya masih beragama Hindu dan selamanya akan tetap Hindu.

1.   Merenungi karakteristik ajaran Veda yang begitu profound dan inklusif, saya berpendapat bahwa ajaran Veda diterima oleh orang2 suci (enlightened seers) ) yang benar2 suci dan qualified dibidang spiritual dan bebas dari dominasi triguna. Para Rsi2 agung ini mengajarkan ajaran suci Veda kepada manusia dari generasi ke generasi tanpa dilandasi motif self interest atau political interest sebagaimana yg terjadi pada agama2 semitik.

2.   Kalau pada agama2 semitik sang nabi naik ke bukit dan memproklamirkan diri (self proclaim) di hadapan orang2 mengaku sebagai nabi utusan tuhan dan bisa menerima wahyu pada saat kapan dan dimana saja termasuk di kasur, sumur dan dapur. Sedangkan Rsi2 Veda mendapat dan menerima wahyu Veda pada saat menjalani laku dan disiplin spiritual yg ketat dan lama sehingga mencapai tahapan samadhi, sebuah fase manunggaling dg Paramatma sehingga bisa memahami rahasia alam semesta termasuk Tuhan dan mentransformasinya ke dalam bahasa dan tulisan manusia. Pada tradisi Veda justru orang2 (publik) yang haus akan pelajaran spiritual lah yg datang ke Rsi untuk belajar spiritual dan bukan Rsi yang secara aktif pergi kesana kemari mencari pengikut sebanyak2nya sebagaimana yg kita lihat pada tradisi agama2 abrahamik.

3.   Saya meyakini letak geografis sangat menentukan karakteristik ajaran sebuah agama. Mengapa ajaran agama abrahamik terkesan keras dan barbar tidak lain disebabkan karena faktor alamnya yg keras dan suhu panas yg ektrim di daerah gurun pasir arabia menentukan aspek emosional inhabitannya. Berbeda dengan alam India tempat para Rsi Agung bertapa dan menerima wahyu Veda yaitu alam pepohonan yg hijau, gunung, bukit yg hijau, sungai dg air yg jernih dan menyejukkan, maka ajaran Veda pun menyejukkan.

4.   Hanya di Hindu saya menemukan ajaran persaudaraan yg menyejukkan yaitu konsep persaudaraan universal yg dikenal dg Vasudaiva Kutumbakam, sebuah mahavakya yg mengakui bahwa umat manusia terlepas dari apapun latar belakangnya (suku, agama, bahasa, bangsa, budaya, tradisi, warna kulit) diseluruh dunia  bersaudara. Ini berbeda dg konsep agama semitik yang hanya mengakui org2 internal agamanya saja sbg saudara sedangkan org2 di luar agamanya sebagai musuh.

5.   Konsep Tuhan, Atman, Moksa, Reinkarnasi, Karma, Rta, Dharma (exclude the Puranas) bagi saya lebih appealing daripada konsep Tuhan, Surga, Neraka, Nabi, Pahala, Kiamat, alam kubur, hari pengadilan (judgement day) dan kebangkitan (resurrection) nya agama semitik. Note: I am not a big fan of Purana.

6.   Overall, kedalaman spiritual Veda lebih memuaskan kebutuhan spiritual saya ketimbang ajaran agama semitik yg dangkal dan kering. Bagi saya ajaran agama semitik hanya cocok utk anak2 TK (taman kanak2) dimana Tuhan bertindak seperti guru TK yg menakuti2 siswa dg hukuman jika tdk mengerjakan PR dan memberi hadiah jika mengerjakan PR.

7.   Nurani dan akal sehat saya menolak sifat2 Tuhan antropomorfik dalam ajaran agama2 semitik (pencemburu, pendendam, senang kalo disembah, marah dan murka kalau tdk disembah, bahkan yg lucu Tuhan menyesatkan manusia karena manusia menolak dan menentang nabinya).

8.   Nurani dan akal sehat saya menolak seseorang yg mengawini 12 wanita (blm termasuk gundik tawanan perang) sebagai org suci apalagi sebagai utusan tuhan, terlebih salah seorang isterinya adalah anak kecil umur 6 thn, anak ingusan yg blm paham bagaimana mengurus kerjaan di kasur, dapur dan sumur. Kualitas spt ini tentu sangat jauh dari kualifikasi org suci.

9.   Membaca biografi nabi Islam, artikel2 tulisan murtadin Anwar Shaikh (Islam: Arab Imperialism), the Nature of Prophethood, buku2 Ali Dasti, Ali Sina dll, saya mantab dan yakin akan kebenaran ajaran Veda.

10. Kebenaran ajaran Veda adalah ‘self-evident dan experential” dan bersumber serta berdasarkan pengalaman spiritual langsung org2 yg tercerahkan (come, see, learn and experience the truth)  dan bukan dogmatic yg berpusat pada satu orang nabi (listen and believe) yang mengeluarkan ayat semaunya kapan dan dimana saja termasuk saat di kasur, sumur dan dapur dan mengubah atau membatalkan ayat2 yg diterima sblmnya dg alasan ayat2 tsb datang dari bisikan setan dan bukan dari tuhan.. (hahaha.. what a joke….?
Aum santih, santih, santih Aum

Sumber :
https://pandejuliana.wordpress.com/2012/02/02/apa-yang-salah-dari-hindu-banggalah-anda-tetap-di-jalan-dharma/

Pedanda


Pendeta-pendeta Hindu memiliki berbagai sebutan, kadang menyesuaikan dengan kastanya. Ada yang bergelar Bhagavan, Shri Mpu, Ida Pedanda, dan sebagainya. Pendeta-pendeta Hindu ini kedudukannya sangat terhormat, beliau-beliau disebut “Sulinggih” yang artinya kedudukan (linggih) yang baik (su). Sulinggih tergolong Dwi Jati atau lahir dua kali, pertama lahir sebagai manusia biasa, kedua lahir sebagai Brahmana (Rohaniawan).

Yang menarik untuk ditelaah adalah gelar “Ida Pedanda” yang banyak disematkan pada pendeta-pendeta Hindu di Indonesia, khususnya di Bali. Biasanya Pedanda-pedanda, selain memberikan siraman rohani (Dharma Wacana) juga sering “muput upacara”, memimpin kebaktian.

Tugas dan kewajiban seorang Ida Pedanda, apabila kita runut dari asal kata, sesuai namanya, tugasnya sebagai penegak hukum, dalam hal ini penegak hukum agama Hindu (Dharma). Kata “Ida” memiliki makna beliau atau Dia yang terhormat, sedangkan kata “Pedanda”artinya pemberi hukuman (danda) atau jika disederhanakan pedanda artinya hakim. Sehingga Ida Pedanda itu sebenarnya adalah Hakim Hindu yang berkedudukan di pengadilan, bukan bertugas sebagai pemuput upacara keagamaan, melainkan sebagai pemutus perkara.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? itu terjadi lantaran pemerintah Indonesia pada tahun 1957 atau awal kemerdekaan, pemerintah RI meniadakan atau melarang pengadilan Adat/pengadilan agama hindu, diganti dengan pengadilan negeri.

Sebelum Indonesia merdeka, di Bali terdapat beberapa pengadilan agama Hindu (Kalau tidak salah ada sembilan, pengadilan ini disebut Raad Van Kertha, dikembangkan Belanda) hakimnya adalah pendeta-pendeta Hindu (pedanda). Di Kabupaten Klungkung, pengadilan Hindu tersebut masih kokoh sampai sekarang, dijadikan museum “Kertha Gosa”.

Jadi kesimpulannya, pedanda-pedanda modern di Indonesia tidak selaras dengan gelar yang disematkan, menyimpang dari tugas dan kewajiban yang sebenarnya. Menurut kitab Bhagavad Gita, orang-orang yang menyimpang dari tugas/wewenang dan kewajibannya tergolong orang-orang yang berdosa.